Sabtu, 20 Oktober 2012

ASKEB PADA BAYI DENGAN HIPOTERMIA


ASUHAN KEBIDANAN

PADA BAYI “Y” UMUR 1 HARI DENGAN HIPOTERMIA SEDANG
DI PAVILIUN ANGGREK RSUD JOMBANG



















\






Disusun Oleh :
WULANDARI
7210069


PRODI D III KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ‘ULUM
JOMBANG
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Asuhan Kebidanan yang berjudul ”Asuhan Kebidanan Pada bayi ”Y” umur 1 hari dengan hipotermia sedang. Asuhan kebidanan ini disusun sebagai tugas praktek klinik kebidanan.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada :
1.      Ibu Indah hera D, Amd.kep selaku pembimbing praktek
2.      H.M.Zulfikar As’ad. MPR selaku penanggung jawab FIK akademi kebidanan darul ulum
3.      Sabrina Dwi Prihartini SKM selaku Ka. Prodi D III Kebidanan FIK UNIPDU Jombang.
4.      Ibu Dian Puspitayani, M.Kes selaku dosen pembimbing
5.      Segenap dosen di akademi kebidanan Darul ’Ulum Jombang
6.      Pihak pasien dan rekan-rekan yang telah membantu dalam penyusunan asuhan kebidanan ini.
Penulis menyadari bahwa Asuhan Kebidanan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan lebih lanjutnya dari penyusunan asuhan kebidanan ini.
Saya berharap semoga asuhan kebidanan ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya.

Jombang, Juni 2012

                                    Penulis












BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Kematian prenatal di Indonesia merupakan kematian nomor 2 setelah maternal, penelitian ini menunjukan bahwa lebih dari 50 % kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan kurang baiknya penanganan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan kematian.
Disamping itu perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan prenatal yang memadai dan penanggulangannya. Factor-faktor yang menyebabkan kematian prenatal yang meliputi perdarahan, infeksi, kelhiran preterm, asfiksi, hipotermi, misalnya sebagai akibatnya hipotermi pada bayi baru lahir yang bisa terjadinya hipoglikemia pada bayi baru lahir dan dapat mengakibatkan kerusakan otak. Gejala awal hipotermi apabila suhu <36 C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32 C-36 C) disebut hipotermi sedang bila suhu tubuh <32 C. hipotermi menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya metabolis anerobik meningkatkan kebutuhan oksigen, mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan berlanjut dengan kematian. (saifudin, 2002)

B.     Tujuan
Mahasiswa mampu menerapkan SOAP sesuai dengan kasus asuhan bayi dengan hipotermia serta mendapatkan pengalaman tentang asuhan pada bayi dengan hipotermia.











BAB II
LANDASAN TEORI


A.    Pengertian
Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh di bawah 36ᵒ C. (dep.kes. RI. 1994)
Suhu normal bayi baru lahir berkisar 36,5ᵒC – 37,5ᵒC. gejala awal hipotermia apabila suhu <36ᵒC atau kedua kaki, dan tangan teraba dingin. Bila seluruh bayi teraba dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang ( 32 C – 36 C). disebut hipotermi sedang bila suhu <32 C. hipotermi menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya metabolis anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen, mengakibatkan hipoksia dan berlanjut dengan kematian. (saifudin, 2002)

·         Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir :
a.       Radiasi      : dari objek ke panas bayi. Contoh: timbangan dingin tanpa alas.
b.      Epavorasi : karena penguapan cairan yang melekat pada kulit. Contoh : air ketuban pada bayi baru lahir tidak cepat dikeringkan.
c.       Konduksi : panas tubuh di ambil oleh suatu permukaan yang melekat di tubuh. Contoh : pakaian bayi yang basah tidak cepat dig anti.
d.      Konveksi   : penguapan dari tubuh ke udara. Contoh : angin dari tubuh bayi baru lahir.
(wiknjosastro,1994)

B.     Penilaian hipotermia pada bayi baru lahir
Gejala hipotermia pada bayi baru lahir
a.       Bayi tidak mau minum atau menetek
b.      Bayi tampak lesu atau mengantuk
c.       Tubuh bayi teraba dingin
d.      Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun, dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema).
·         Tanda – tanda hipotermia sedang:
a.       Aktifitas berkurang, letargis
b.      Tangisan lemah
c.       Kulit berwarna tidak rata
d.      Kemampuan menghisap lemah
e.       Kaki teraba dingin
f.       Jika hipotermia berlanjut akan timbul cidera dingin
·         Tanda – tanda hipotermia berat :
a.       Aktifitas berkurang, letargis
b.      Bibir dan kuku kebiruan
c.       Pernafasan lambat
d.      Pernapasan tidak teratur
e.       Bunyi jantung lambat
f.       Selanjutnya mingkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic
g.      Resiko untuk kematian bayi
·         Tanda – tanda stadium lanjut hipotermia
a.       Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
b.      Bagian tubuh lainnya pucat
c.       Kulit mengeras dan timbul oedema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema).
(saifudin, 2002)

C.    Penyebab dan resiko
·         Penyebab utama
Kurang pengetahuan cara kehilangan panas dari tubuh bayi dan pentingnya mengeringkan bayi secepat mungkin.
·         Resiko untuk terjadinya hipotermia
a.       Perawatan yang kurang tepat setelah bayi baru lahir
b.      Bayi di pisahkan dari ibunya segera setelah lahir
c.       Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan premature
d.      Tempat melahirkan yang dingin (putus rantai hangat)
e.       Bayi asfiksi, hipoksia, resusitasi yang lama, sepsis, sindrom dengn pernafasan, hipoglikemia perdarahan intra cranial.
(Dep.kes RI, 1992)

D.    Factor terjadinya hipotermia
1.      Lingkungan
2.      Syok
3.      Infeksi
4.      Gangguan endokrin metabolic
5.      Kurang gizi, energy protein
6.      Obat-obatan
7.      Aneka cuaca
(Dep.kes RI, 1992)

E.     Prinsip dasar mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir dan mencegah hipotermia
a.       Mengeringkan bayi baru lahir segera setelah bayi lahir
Bayi lahir dengan tubuh basah dengan air ketuban. Aliran udara melalui jendela pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh. Akibatnya dapat timbul serangan dingin (cols stress) yang merupakan gejala awal hipotermia. Untuk mencegah terjadinya serangan dingin, setiap bayi lahir harus segera dikeringkan dengan handuk yang kering dan bersih (sebaiknya handuk tersebut dihangatkan terlebih dahulu). Setelah tubuh bayi kering segera dibungkus dengan selimut, diberi topi atau tutup kepala, kaus tangan dan kaki. Selanjutnya bayi diletakan dengan terlungkup di atas dada untuk mendapat kehangatan dari dekapan ibu.
b.      Menunda memandikan bayi bari lahir sampai tubuh bayi stabil untukmencegah terjadinya serangan dingin, ibu atau keluarga dan penolong persalinan harus menunda memandikan bayi baru lahir.
1.      Pada bayi baru lahir sehat yaitu lahir cukup bylan, berat > 2500 gram, langsung menangis kuat, maka memandikan bayi ditunda ±24 jam setelah kelahiran.
2.      Pada bayi baru lahir dengan resiko ( tidak termasuk criteria di atas), keadaan bayi lemah atau bayi dengan berta lahir < 2500 gram, sebaiknya bayi jangan di mandikan di tunda beberapa hari sampai keadaan umum membaik yaitu bila suhu tubuh bayi stabil, bayi sudah lebih kuat dan dapat menghisap ASI dengan baik.
( Dep.kes RI, 1992)

F.     Tindakan pada hipotermia
Segera hangatkan bayi, apabila terdapat alat yang canggih seperti incubator gunakan sesuai ketentuan. Apabila tidak tersedia incubator cara ilmiah adalah menggunakan metode kanguru cara lainnya adalah dengan penyinaran lampu.
a.       Hipotermia sedang
1.      Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih dan hangat.
2.      Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila ibu dan bayi berada dalam satu selimut atau kain hangat yang disertakan terlebih dahulu. Bila selimut atau kain mulai mendingin, segera ganti dengan selimut atau kain yang hangat.
3.      Ulangi sampai panas tubuh ibu mendingin, serta ganti dengan selimut kain yang hangat.
Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara:
Ø  Member tutup kepala atau topi bayi
Ø  Mengganti kain atau popok bayi yang basah dengan yang kering dan hangat
b.      Hipotermia berat
1.      Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih dan hangat
2.      Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru, bila perlu ibu dan bayi berada dalam satu selimut atau kain yang hangat.
3.      Bila selimut atau kain mulai mendingin, segera ganti dengan selimut atau kain lainnya yang hangat ulangi sampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi
4.      Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara :
Ø  Member tutup kepala atau topi kepala
Ø  Mengganti kain atau pakaian / popok yang basah dengan yang kering atau hangat
5.      Biasanya bayi hipotermia menderita hipoglikemia. Karena itu ASI sedini mungkin dapat lebih sering selama bayi menginginkan bila terlalu lemah hingga tidak dapat atau tidak kuat menghisap ASI. Beri ASI dengan menggunakan NGT, bila tidak tersedia alat NGT beri infuse 10% sebanyak 60-80 ml kg liter.
6.      Segera rujuk di RS terdekat.
(dep.kes RI, 1992)

G.    Pencegahan Hipotermia
Pencegahan hipotermia merupakan asuhan neonatal dasar agar BBL tidak mengalami hipotermia. Disebut hipotermia bila suhu tubuh turun di bawah 36,5 C. suhu normal pada neonatus adalah 36,5-37,5 C pada pengukuran suhu melalui ketiak BBL mudah sekali terkena hipotermia hal ini disebabkan karena :
1.      Pusat pengaturan panas pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
2.      Permukaan tubuh bayi relative luas
3.      Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
4.      Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dari pakaiannya agar ia tidak kedinginan
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pencegahan hipotermia adalah mengeringkan bayi sedini mungkin, menutup bayi dengan selimut atau topi dan menempatkan bayi diatas perut ibu (kontak dari kulit ke kulit). Jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menaruh bayi diatas dada ( karena ibu lemah atau syok) maka hal-hal yang dapat dilakukan :
Ø  Mengeringkan dan membungkus bayi dengan kain yang hangat
Ø  Meletakan bayi di dekat ibu
Ø  Memastikan ruang bayi yang terbaring cukup hangat
(Dep.kes RI, 1994)











ASUHAN KEBIDANAN
PADA BAYI “Y” UMUR 1 HARI DENGAN HIPOTERMIA SEDANG
DI PAVILIUN ANGGREK RSUD JOMBANG



Tanggal           : 26 – 06 – 2012
Jam                  : 16.00 WIB

S : SUBJEKTIF
1.      Identitas
Nama bayi       : By.Ny “Y”II
Umur bayi       : 1 hari
Tgl/ jam lahir   : 26-06-2012/ 17.00 WIB
Jenis kelamin   : perempuan
Anak               : ke-4
Alamat            : Ngogri, megaluh

Nama ibu         : Ny “Y”                                  Nama ayah      : Tn “S”
Umur               : 37 tahun                                Umur               : 40 tahun
Agama             : islam                                      Agama             : islam
Pendidikan      : SMP                                      Pendidikan      : SMP
Pekerjaan         : tidak bekerja                         Pekerjaan         : Swasta
Alamat            : Ngogri, megaluh                   Alamat                        : Ngogri, megaluh

2.      Riwayat persalinan sekarang
a.       Jenis persalinan     : persalinan spontan
b.      Di tolong oleh       : Bidan
c.       Jenis kehamilan     : Multiple
d.      Ketuban                : jernih
e.       Usia kehamilan      : 31-32 minggu

3.      Keluhan utama
Hipotermia suhu 34,2 C, bayi lahir spontan belakang kepala, bayi mengalami hipotermia dengan suhu 32,4 C.

4.      Riwayat kesehatan sekarang
Pasien kiriman ponek jam 17.30 WIB, GIV P30002 31-32 minggu gemeli inpartu kala 1 lahir spontan, ketuban jernih, A-S=6-8, jenis kelamin perempuan, keluhan akral dingin, sesak + hipersalivasi.

5.      Riwayat kesehatan lalu
Ibu mengatakan bahwa bayinya selama dalam kandungan tidak ada keluhan atau kelainan apapun.


6.      Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti : jantung, DM, hipertensi, asma, penyakit menahun seperti : jantung, DM, penyakit menular : TBC, HIV/AIDS.

7.      Riwayat neonatal, kehamilan dan persalinan
a.       Prenatal     : ibu hamil anak ke-4
 ANC  TM I    : 2X di bidan, terapi: Fe,kalk
            TM II  : 4X di bidan, terapi: fe, kalk
            TM III : 3X di bidan, terapi : fe, kalk
b.      Natal         : ibu telah melahirkan anak yang ke-4, lahir bayi perempuan secara normal, di tolong oleh bidan, A-S=6-8
c.       Post Natal             : saat ini keadaan bayi jelek, bayi mengalami hipotermia sedang dengan suhu 34,2 C. BB: 1520 gram, PB: 43 cm, LIDA: 24 cm, lingkar abdomen: 24 cm.


O : OBJEKTIF
1.      Pemeriksaan Umum
Keadaan umum           : lemah
Warna kulit                 : cyanosis
Reflek                                     :
Ø  Rooting (menoleh)      : lemah
Ø  Moro (mendekap)       : lemah
Ø  Walking (menendang) : lemah
Ø  Graph(menggenggam): lemah
Ø  Sucking (menghisap)   : lemah
TTV                            
Suhu    : 34,2 C
RR       : 54 x/ menit
HR      : 144x/ menit
BB       : 1520 gram
PB       : 43 cm
APGAR SCORE
Menit 1 :          appeance (warna kulit): 1                    menit 5            A : 1
                        Pulse (frek. nadi)         : 2                                            P : 2
                        Grimace (rangsangan) : 1                                            G : 2
                        Activity (tonus otot)    : 1                                           A : 1
                        Respiration (pernapasan):1                                          R : 2

2.      Pemeriksaan Fisik Umum
·         Inspeksi
Ø  Kepala             : simetris, tumbuh rambut warna hitam, tidak ada kelainan
Ø  Muka               : simetris, kebiruan, tidak ada lanugo
Ø  Mata                : simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih.
Ø  Hidung            : simetris, terpasang oksigen nasal 2 Lpm
Ø  Telinga            : simetris, tidak ada serumen
Ø  Mulut              : simetris, bibir tampak kering, terpasang OGT
Ø  Leher               : tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid, dan tidak tampak bendungan vena jugularis.
Ø  Dada               : tidak ada kelainan
Ø  Mamae            : simetris, putting susu menonjol,areola mamae kemerahan.
Ø  Tali pusat         : bersih, tidak ada perdarahan, tali pusat belum kering da belum lepas, tali pusat di balut dengan kasa steril, terpasang infuse umbilical.
Ø  Genetalia         : labia mayor menutupi labia minor
Ø  Anus                : tidak ada atresia ani
Ø  Ekstremitas     : tidak ada kelainan, terlihat berwarna kebiruan.
·         Palpasi
Ø  Kepala             : tidak ada oedema, tidak ada kelainan seperti chepal hematom, caput sucsadenum, anensefalus, dan hidrosefalus.
Ø  Ubun – ubun   : datar
·         Auskultasi
Ø  Dada               : tidak ada wheezing, tidak ada ronchi
·         Antropometri
Ø  FO                   : 30 cm
Ø  Lingkar dada   : 24 cm
Ø  Lingkar abdomen : 24 cm

3.      Pemeriksaan penunjang
Ø  Hemoglobin    : 14,2 g/dl
Ø  Lekosit            : 9400 cmm
Ø  Hematokrit      : 44, 9 %
Ø  Eritrosit           : 3.850.000
Ø  Trombosit        : 398.000 cmm
Ø  Gol darah        : B
·         Terapi
Ø  Inf. D10 0,18 %          100 cc
Ø  Ca gluconas                 5 cc
Ø  Aminof                        50 cc
Ø  Aminipilin bolus drip 3 cc
Ø  Inj. Ampi                     2x100 mg
Ø  P.O urdg hex d pomobarbital
Ø  PASI                           8x2,5 cc

A : ANALISA DATA
Dx       : bayi Ny “Y” umur 1 hari dengan hipotermia
Ds        : -
Do       : keadaan umum          : jelek
            TTV
            Suhu    : 34,5 C
            RR       : 54x/menit
            HR      : 144x/ menit
            BB       : 1520 gram
            PB       : 43 cm
            LIDA : 24 cm
            L.abdomen : 24 cm
            Sesak   : (+)
            Terpasang : 2 Lpm

Masalah           : -
Kebutuhan      :
Ø  Thermoregulasi
Ø  Pemberian ASI atau PASI
Ø  Perawtan bayi sehat sehari-hari
Ø  OGT
Ø  Infus DL 10%                         100 cc
Ø  RL                               40 cc / 1 jam
Ø  Vit K                           1 mg IM
Ø  Inj. Ampi                     2x100 mg
Ø  Inf. D10 0,18 %          100 cc
Ø  Ca gluconas                 5 cc
Ø  Aminofusin                 50 cc
Ø  Aminopilin bolus drip 3 cc
Ø  PASI                           8x2,5 cc


P : PENATALAKSANAAN

1.      26-06-2012                              Lakukan penghangatan pada tubuh bayi
16.00 WIB                              Melakukan penghangatan pada tubuh bayi dengan cara meletakan bayi pada incubator dengan suhu 37,5 C.
Agar bayi hangat dan tiddak terjadi hipotermia.
2.      26-06-2012                              lakukan observasi TTV pada bayi
16.30 WIB                              melakukan observasi TTV pada bayi dengan cara mengukur suhu tubuh bayi, menghitung frek. Nafas bayi.
                                                S          : 34,5 C
                                                HR      : 144x/ menit
                                                RR       : 54x/ menit
3.      26-06-2012                              lakukan pemasangan infus, pemasangan O2 nasal, pemasangan OGT.
Melakukan pemasangan infus RL DL 10 % 100 cc, pemasangan O2 nasal 2 Lpm, dan pemasangan OGT.
Agar kondisi bayi lebih baik


Catatan perkembangan
Tanggal           : 27-06-2012
Jam                  : 10.30 WIB

S : -
O :       keadaan umum            : lemah
            Suhu                            : 35,2 C
            Nadi                            : 120 x/ menit
            BAB/ BAK                 : +/+
            Tangis                          : lemah
            Gerak / tonus               : lemah
            Warna kulit                 : cyanosis
A : Bayi “Y” umur 2 hari BCB dengan hipotermia sedang
P :
Ø  Thermoregulasi
Ø  Pemberian ASI atau PASI
Ø  Perawatan bayi sehat sehari-hari
Ø  RL 40 cc/ 1 jam
Ø  Inj. Ampi 2x100 mg
Ø  Ca gluconas 5 cc
Ø  Aminopilin bolus drip 3 cc
Ø  PASI 8x2,5 cc

Tanggal           : 28-06-2012
Jam                  : 09.00 WIB

S : -
O :       keadaan umum            : Jelek
            Suhu                            : 33,6 C
            Nadi                            : 52 x/ menit
            BAB/ BAK                 : +/-
            Tangis                          : lemah
            Gerak / tonus               : lemah
            Warna kulit                 : cyanosis
A : Bayi “Y” umur 3 hari BCB dengan hipotermia sedang
P :
Ø  Thermoregulasi
Ø  Inf. DL 10% 100cc
Ø  Inj. Ampi 2x100 mg
Ø  Ca gluconas 5 cc
Ø  Aminopilin bolus drip 3 cc
Ø  PASI 8x2,5 cc
Ø  Resusitasi


Tanggal           : 28-06-2012
Jam                  : 10.30 WIB
Bayi “Y” umur 3 hari BCB dengan hipotermia sedang meninggal dunia




















BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan hipotermia merupakan aspek penting pasca persalinan. Oleh sebab itu, asuhan yang diberikan harus benar-benar cepat, aman, dan tepat.
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi “Y” umur 1 hari dengan hipotermia sedang dapat menarik kesimpulan bahwa penatalaksanaan yang dilakukan sesuai dengan teori dan bayi “Y” dikatakan hipotermia sedang dan keadaan saat ini mulai membaik.

B.     Saran
1.      Bagi mahasiswa
Mempelajari lebih lanjut tentang teori yang berhubungan dengan asuhan bayi dengan hipotermia, sehingga mampu memberkan asuhan pada bayi dengan hipotermia secara komperhensif.
2.      Bagi petugas
Petugas memberikan asuhan secara komferhensif secara cepat, aman dan tepat.













DAFTAR PUSTAKA


·         Depkes RI.1994. pedoman penanganan kegawatdaruratan obstetric dan neonatal. departemen kesehatan RI, Jakarta.
·         Saifudin, abdul bari. 2002. pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. INPKKRPOGI dan YBS-SP, Jakarta.
·         Wiknjosastro, gulardi H, dkk.2007. asuhan persalinan normal, JNPK-KR. Jakarta.





                                                                       
           

           



1 komentar: